
Jakarta, DETEKSIJAYA.COM – Ketua Mahkamah Agung (MA) Prof Sunarto menegaskan pentingnya perubahan paradigma kepemimpinan di lingkungan peradilan. Menurutnya, seorang pemimpin kini harus tampil sebagai pelayan, bukan justru minta dilayani.
“Pimpinan sekarang nggak perlu dilayani. Buat apa? Pimpinan itu wajib melayani, bukan dilayani,” ujar Sunarto saat memberikan pembinaan kepada para hakim ad hoc dari seluruh Indonesia di Balairung Mahkamah Agung, Jakarta, Jumat (25/7/2025).
Lebih dari 400 hakim ad hoc hadir dalam kegiatan tersebut, yang terdiri dari hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan Hubungan Industrial, Pengadilan Perikanan, hingga Pengadilan HAM. Turut hadir pula sejumlah pejabat tinggi MA, di antaranya Wakil Ketua MA Bidang Yudisial Suharto, Ketua Muda MA Bidang Pengawasan Dwiarso Budi Santiarto, Ketua Muda MA Bidang Pidana Prim Haryadi, serta Ketua Muda MA Bidang Pembinaan Syamsul Maarif.
Sunarto menekankan bahwa keberadaan hakim ad hoc merupakan amanat dari reformasi sistem peradilan. Oleh karena itu, integritas dan profesionalisme menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
“Jangan sampai ada lagi yang berurusan dengan aparat penegak hukum. Saya meminta itu yang terakhir kali terjadi di Pengadilan Jakarta Pusat. Apakah sanggup?” tanyanya, yang dijawab serempak oleh para hakim, “Sanggup!”
Dalam kesempatan tersebut, Sunarto juga mengingatkan agar para hakim tidak melenceng dari nilai-nilai keadilan. Ia menyampaikan kritik tajam terhadap praktik peradilan yang bisa tergelincir pada kepentingan materi.
“Jangan sampai irah-irah putusan pengadilan ‘Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa’ diganti menjadi ‘Demi Keadilan Berdasarkan Keuangan Yang Maha Kuasa’. Jangan! Jangan menjual Tuhan,” tegasnya.
Acara pembinaan ini juga dihadiri oleh hakim ad hoc tingkat kasasi serta sejumlah pejabat eselon I dan II di lingkungan Mahkamah Agung, termasuk Sekretaris MA dan Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum (Badilum). (Ramdhani)












































