KARAWANG | DETEKSIJAYA.COM – Kegiatan pembangunan dan pemeliharaan tanggul/tebing di Sungai Citarum, Kabupaten Karawang, bernomor Kontrak: HK.02.01/Satker OPSDAC/ PPK OPSDA II/Av/08/2023 dengan anggaran Rp. 3.905.125.000,- yang dikerjakan oleh CV. Bagja Wira Karya dengan 3 Konsultan Supervisi, PT Tricon Jaya KSO, PT Tiga Cahaya Mandiri KSO dan PT Globetek Glory, di lokasi kegiatan tidak terlihat adanya pembangunan Direksi Keet.
Direksi Keet adalah bangunan sementara dan sederhana dengan ukuran luas (biasanya) 4m x 6m yang terbuat dari Kaso berdinding Triplek dan beratap Seng yang berada dalam sebuah proyek pekerjaan konstruksi yang digunakan sebagai tempat koordinasi dan diskusi antara Konsultan Pengawas, Kontraktor Pelaksana, dan berfungsi juga sebagai tempat: pengawasan, pengendalian administrasi proyek, memasang gambar bestek, skedul, kurva, menyimpan material (gudang), transaksi material, pembayaran mandor, dan tukang, serta sebagai tempat menerima tamu, dan lain-lainnya.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan salah seorang pemerhati lingkungan yang berada di Kabupaten Karawang, Abdul Haris kepada awak media (deteksijaya.com), dirinya merasa aneh ketika melihat pembangunan pemeliharaan tanggul/tebing di Sungai Citarum yang berlokasi di Desa Solokan, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang pada Kamis (18/08/22).
“Saya merasa heran pembangunan dengan nilai Kontrak Rp.3.905.125.000 (Tiga milyar sembilan ratus lima juta seratus dua puluh lima ribu rupiah) tidak ada pembangunan Direksi Keet. Pembangunan Direksi keet termasuk pada pekerjaan persiapan, maka Direksi keet dikerjakannya sebelum pekerjaan inti dilaksanakan,” katanya.
“Selain itu saya juga tidak melihat adanya pengarugan tanah merah yang diarug pada pinggiran bangunan turap penahan tanggul, tetapi diarug dengan tanah di sekitarnya,” sambung Abdul Haris.



Lebih lanjut Abdul Haris menuturkan, pengisian Bronjong seharusnya diisi dengan batu belahan yang tidak besar, dan ini berbeda dengan yang dilihatnya di lokasi.
“Saya melihat pada pengisian Bronjong tampak terlihat adanya batu yang besar-besar, yang mana seharus diisi dengan batu belahan yang tidak besar,” tuturnya.
“Tinggi bronjong tidak sampai atas tanggul, dikhawatirkan jika ada hujan maka tanah yang di atas tanggul akan turun. Apalagi kalau ada banjir bisa terjadi abrasi,” pungkas Abdul Haris.
(Asep Sukmana)













































