
SIDOARJO | DETEKSIJAYA.COM – Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dan Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (GHIPPA)mendatangi kantor Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo pada Kamis (15/9/2022)siang.Kedatangan mereka dalam rangka menghadiri undangan Singkronisasi data HIPPA/GHIPPA terkait permasalahan debit air.
Bapak Achron, pemerhati irigasi selaku narasumber menyampaikan, terkait Rencana Tata Tanam Global
(RTTG) diusulkan tingkat satu tambahan debit air,,mana mana yang memang harus membutuhkan air pada saat itu.rttg harus disusun.Lokasi debit bisa diusulkan di wilayah 1 selain Oktober -Juni,Sehingga nanti bisa singkron tingkat 1 dan 2 terangnya dalam paparannya.
Saya mengusulkan kebutuhan untuk tanaman berapa,PDAM berapa dan industri berapa total kebutuhan Sidoarjo itu berapa.
Pola tanam kalau tidak sampai IP 300 perlu identifikasi permasalahan dan alternatif pemecahan masalah bila tidak mencapai IP 300,”ungkap Achron.
“Berpedoman data dari BMG membaca musim.itu yang perlu dimanfaatkan betul oleh bapak sekalian.dengan harapan mendapatkan IP 300.Debit akan terprogram untuk berapa hektar mana saja yang dipakai oleh HIPPA sehingga nanti tidak sama kekurangannya kalau dihitung dan disepakati,”pungkasnya.
Sementara Kepala Dinas Pangan dan Pertanian, Dr. Eni Rustianingsih, ST., MT menyampaikan, untuk penanganan dan solusi kebutuhan air harus sepakat dalam RTTG,dengan PU SDA,UPTD,dan HIPPA harus sepakat untuk menangani masalah air untuk petani,lahannya berapa butuh air sekian-sekian.
“Sepakat dulu dengan Petani.Nanti saya menyampaikan usulkan kebutuhan pompa kepada pak Bupati untuk para petani,”ujar Eni.
Salah satu petani yang tergabung dalam HIPPA dari Kecamatan Jabon dari Desa Semambung, mengatakan selama ini belum pernah ada kordinasi petani , HIPPA dengan PU Pengairan,Desa saya paling Timur perbatasan Pasuruan.Satu tetespun saya tidak pernah menggunakan air tawar,”ucapnya.
Sementara bersamaan,Revany Febrianto selaku Penyuluh Pertanian kec.Jabon menyampaikan di Jabon luas tanah 1387 Hektar baku luasan tanah dan 1361Hektar.Kita nunggu kalau tidak ada air baru ditanami,nunggu kering.
“Pada intinya jabon itu wilayah unik mas.Soalnya dekat dan berbatasan langsung dengan laut.Kalau musim kemarau khusus wilayah Desa Semambung, Kupang,dan Permisan itu selalu terendam air,”ungkapnya kepada wartawan.
Jadi tidak bisa dilakukan kegunaan tanam, khususnya padi.Untuk tahun ini baru bisa tanam di MT II.(Musim tanam).
Karana di MT I kondisi lahan masih tergenang air hujan.Apalagi belum ditambah pasang surut air laut yang masuk ke areal persawahan.
Kalau dimusim kemarau khusus di wilayah tersebut malah sangat-sangat kekurangan air.
Karena letak desa tersebut merupakan desa paling bawah diwilayah kec.Jabon.
yang mana akan lebih membebani biaya tanam untuk membeli BBM solar.Untuk kegiatan tanam padi,petani di Semambung,Kedungpandan mengandalkan pompa air untuk memenuhi kebutuhan air pada masa tanam.
“Satu tahun bisa tanam dua kali itu luar biasa,panen sekali saja susah khusus di Desa Semambung dan Permisan juga desa Kupang kendalanya di air,”pungkasnya.
Sutejo staf Sarpras Dinas Pangan dan Pertanian menambahkan,intinya kegiatan ini,”Dinas pertanian yang merupakan bagian dari komisi irigasi berusaha mencarikan solusi permasalahan air di lahan dengan mempertemukan hippa, petugas dan instansi terkait,”pungkasnya. (Nug/DN)












































