BOGOR | DETEKSIJAYA.COM – Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam pidatonya di Rapimnas Demokrat 2022 di Jakarta, menyinggung langkah pemerintah Presiden RI Joko Widodo yang mengeluarkan kebijakan Bantuan Langsung Tunai atau BLT kekinian untuk mengganti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
AHY mengatakan, ketika era SBY program BLT banyak dihina dan diremehkan. Program tersebut dianggap hanya untuk menghambur-hamburkan uang.
“Dulu di hina-hina BLT kita, apa itu BLT? Hanya untuk menghambur-hamburkan uang negara. Dibilang kita tak punya cara lain, padahal itulah cara yang bijaksana untuk membantu rakyat miskin. Betul?,” kata AHY, Jumat (16/9/2022).
Ia lantas membandingkan program BLT kekinian yang diterapkan oleh pemerintahan Jokowi. AHY mengaku tak akan mempermasalahkan hal itu, lantaran justru merasa senang kebijakan bagus bisa dilanjutkan.
“Sekarang BLT? Its oke, sesuatu yang bagus kalau dilanjutkan, kan gak apa-apa. Gausah malu-malu juga,” sindir AHY.

Menyusul sindiran AHY tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI, Adian Yunus Yusak Napitupulu mengatakan, ada perbedaan antara BLT era pemerintahan SBY dengan Joko Widodo (Jokowi).
“BLT era SBY itu beda, kenapa? Naiknya BBM di era SBY itu 259 persen. Di era Jokowi BBM cuma naik 54 persen, ada selisih 205 persen kenaikan antara SBY dan Jokowi. Lebih tinggi 200 persen di jaman SBY dibandingkan Jokowi,” kata Adian di sela-sela acara bakti sosial pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis yang dilakukan oleh DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bogor, di Desa Pandansari.
“Orang bilang pada saya, itu kan persentase. Ya angkanya berapa? Zaman Presiden SBY kenaikan BBM itu Rp 4.190, di zaman Presiden Jokowi Rp 3.500. Selisihnya Rp 1.190, jadi lebih banyak di zaman SBY. Kalau kenaikan BBM sampai 254 persen, siapapun boleh menangis untuk itu,” imbuhnya.
Politisi PDI-P ini menyebut, meski nilainya BLT tidak jauh berbeda, tapi di era SBY tidak ada bantuan lain yang diberikan ke masyarakat.
“Ada enam sampai tujuh program-program sosial lainnya. Ada PKH dan sebagainya. Ya akumulasikan saja. Ada satu keluarga yang bisa dapatkan 4-5 program. Untuk anaknya sekolah, dia dapat untuk pengganti BBM-nya, dia dapat untuk kesehatan. Zaman SBY mana, enggak ada,” tuturnya.
Untuk itu, Adian berharap dalam menyampaikan sesuatu, AHY harus benar-benar akurat.
“Kalau menurut saya, AHY harus lebih banyak belajar tentang data. Kalau bisa belajar berhitung lagi,” pungkasnya. (Red-01)













































