JAKARTA | DETEKSIJAYA.COM – Selama ini pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung dikenal sebagai salah satu sosok yang sering melontarkan kritik kepada Presiden Jokowi, termasuk kepada para menterinya.
Meski demikian, bukan berarti dia alergi dengan orang-orang yang berada dalam lingkaran pertama penguasa.
Hal itu terlihat saat Gerung mengundang Menko Kemaritiman dan Investasi, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan berdiskusi di kanal YouTube resminya, RGTV.
Sebagai tamu perdana di kanal Youtube itu, Luhut tidak hanya diwawancarai, namun juga diajak berdiskusi oleh Gerung.
Dalam diskusi yang berlangsung sekitar 30 menit itu, Gerung yang biasanya suka “meraung-raung” dan tampil garang dalam mengkritik Pemerintah, terlihat menciut.
Kata-katanya yang pedas dan serangan-serangan keras yang biasanya dilancarkan berganti menjadi rentetan pujian. Dari awal sampai akhir diskusi, wajah Gerung dihiasi banyak senyuman, sorot matanya pun tak tajam lagi.

Salah satu hal yang menjadi pertanyaan Gerung dalam diskusi itu adalah sosok Luhut yang di mata sebagian masyarakat dianggap sebagai menteri segala urusan.
Bahkan Gerung mengibaratkan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi itu sebagai menteri penguasa yang seolah memiliki tongkat Nabi Musa untuk mengurus berbagai hal.
Dia pun menyinggung menteri-menteri Jokowi lainnya. Menurutnya, menteri yang lain tidak bikin apa-apa selain kampanye presiden.
Menanggapi pertanyaan Gerung tersebut, Luhut dengan tegas menolak disebut sebagai menteri penguasa. Menurutnya, semua bekerja team work untuk Indonesia. Berbeda pendapat hal yang wajar untuk kedewasaan dalam regenerasi.
“Ya gak juga, kan hebat-hebat semua. Berbeda pendapat hal yang wajar, berbeda pendapat adalah kedewasaan menjadi salah satu bagian untuk regenerasi, saya harus komplain itu, semua kerja team work,” ujar Luhut.
Luhut mengatakan, sebagai Menko dirinya memang memiliki banyak tugas. Hal yang sama juga dirasakan dengan Menko lainnya di kabinet saat ini.
“Memang semua menko itu banyak kerjanya kok. Bukan hanya saya aja. Jadi saya heran,” ujarnya.
Di kesempatan itu, Luhut sempat menyentil Gerung soal pernyataan Gerung yang pernah mengkritik Presiden Joko Widodo dengan sebutan ‘dungu’.
Meski pernyataan dungu tersebut menyakitkan, Luhut menyatakan hal tersebut tidak menjadi masalah.
Dia pun menegaskan kritik yang disampaikan Gerung tersebut menjadi bukti tidak ada kebebasan yang dikekang di era Presiden Joko Widodo.
Kendati begitu, Dia berharap perbedaan pendapat haruslah disertai dengan kesantunan. “Saya hargai perbedaan pendapat harus ada, karena di keluarga aja ada kan,” terangnya.
“Kita sepakat berbeda pendapat itu dalam konteks yg lebih santun. misalnya mau kritik presiden kita, mau kritik sini, kritik saya tenang saja,” tambah Luhut.
Lebih lanjut Luhut juga menyampaikan, dirinya meyakini bahwa Indonesia mampu menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi.
Menurutnya, adanya keterlambatan waktu di beberapa aspek dapat terjadi lantaran pemerintah harus melakukan penyesuaian.
Luhut menilai Jokowi telah membuat berbagai perubahan besar untuk negeri selama menjabat sebagai Kepala Negara. Oleh karena itu, dia optimis negeri ini mampu mencapai cita-cita menjadi Indonesia Emas pada 2045 mendatang.
“Selama hampir 8 tahun bersama Presiden Jokowi dalam pemerintahan ini, saya kira kita telah membuat perubahan-perubahan yang besar untuk negeri ini. 2030 dan 2045 itu saya pikir kalau kita semua sepakat dan kompak, itu akan bisa kita capai. Tidak ada yang tidak bisa kita capai,” tandasnya. (Red-01)













































