
JAKARTA – Masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak atau stunting menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat sehingga lebih rendah dibanding anak anak seusianya, kondisi seperti ini bisa jadi disebabkan oleh malnutrisi pada ibu hamil atau semasa anak dalam masa pertumbuhan.
Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi NasDem Abdul Azis Muslim memaparkan cara penanganan stunting di Jakarta. Hal ini usai Abdul Azis mendapat laporan adanya kasus stunting saat menggelar sosialisasi peraturan daerah di wilayah Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.
“Penyebab utama dari stunting adalah kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan anak, kemungkinan juga kurangnya asupan gizi saat ibu mengandung, saya sarankan untuk ibu hamil dan balita untuk memberikan asupan makanan sehat, Persoalan stunting ini masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan ini harus menjadi perhatian serius Pemprov DKI Jakarta untuk segera menanganinya, ” ujar Abdul Azis, Senin (11/9/2023).
Legislator NasDem yang akrab disapa Bang AAM ini berharap fasilitas kesehatan yang ada di tingkat kelurahan, seperti Puskesmas agar bisa melayani dan mengedukasi dalam masyarakat memenuhi gizi anak.
“Sehingga pengetahuan tentang pemberian gizi dan hal-hal dasar untuk mencegah stunting, bisa diketahui langsung oleh,” jelasnya masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Azis juga mengimbau masyarakat yang mengalami kesulitan dalam menyampaikan aspirasinya untuk bisa melaporkan langsung di Rumah Aspirasi AAM Center untuk ditindaklanjuti.
“Bila masih ada warga yang kesulitan mengurus masalah BPJS , kesehatan ataupun program-program bantuan Pemprov DKI Jakarta untuk disampaikan ke saya agar saya bisa membantu dan ditindaklanjuti,” imbuhnya.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan suatu negara dikatakan memiliki masalah stunting bila kasusnya mencapai angka diatas 20% , sementara berdasarkan data Kemenkes tahun 2021 di Indonesia sebanyak 24,4% sehingga termasuk masalah yang harus serius ditangani. (Bams)












































