
DETEKSIJAYA.COM – Suku Betawi merupakan bagian dari suku suku di Indonesia yang memiliki ragam budaya unik dan kuliner tradisional yang lezat.
Sejarah awal mula Betawi yaitu saat jaman Belanda, agar terbentuknya identitas kelompok masyarakat yang homogen dengan itu nama Betawi muncul dan pemberian pihak Belanda, usut punya usut Betawi diambil dari nama Jakarta pada masa itu yaitu Batavia.
Asal mula penyebutan suku Betawi berasal dari kesalahan penyebutan kata Batavia menjadi Betawi.
Dalam hal tradisi kesenian dan kebudayaan Betawi memiliki karakteristik yang kuat, tumbuh dan berkembang dikalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya.
H. Mudjamil tokoh Betawi yang tetap konsisten menjaga dan melestarikan kebudayaan Betawi agar tidak mudah tergerus oleh jaman.
” Kebudayaan Betawi harusnya bisa memberikan inspirasi untuk masyarakat terutama generasi penerus. Kesadaran untuk melestarikan budaya Betawi ditekankan sejak dini agar Budaya Betawi tidak punah sampai disini, mengingat budaya luar yang sulit dibendung.
Kalau bukan kita yang melestarikan kesenian tradisional Betawi siapa lagi kebudayaan Betawi sangat banyak dan kita harus berani memperkenalkan kebudayaan kita dari ondel ondel, tanjidor, lenong, palang pintu, Gambang Kromong dan wayang topeng ini merupakan seni budaya di tanah Betawi yang tidak boleh punah.
Pemberdayaan masyarakat Betawi sebagai masyarakat inti Jakarta lewat kesenian misalnya untuk para pengrajin ondel ondel kita bina, pada dasarnya banyak pengrajin di wilayah kita, masalahnya dari mereka sulit untuk memasarkan hasil kerajinannya, dari sini kita harus cari solusi agar siklus tidak berhenti disini. ujar Babeh Djamil sapaan akrab sehari hari.
Babeh Djamil sangat menyayangkan fenomena ondel ondel yang menjadi ikon budaya Betawi banyak disalah gunakan untuk ngamen ” ini merupakan konsep yang salah ondel ondel adalah salah satu dari 8 ikon budaya Betawi yang telah di atur oleh Pergub DKI Jakarta No 11/2017 dan Peraturan Daerah no 4/2015, jadi seharusnya dilestarikan bukan untuk ngamen dan ngemis. Silahkan kita cari uang tapi dengan konsep yang baik belajar besi atau palang pintu itu juga bisa menghasilkan di setiap hajatan pasti di pake dan untuk memajukan perekonomian kita misal dengan berdagang kuliner tradisional seperti dodol, kue geplak, kerak telor, asinan Betawi, masih banyak kuliner Betawi lainnya, ujar pengusaha furniture ini.
” Kuliner Betawi mempunyai makna tersendiri seperti roti buaya memiliki makna di budaya Betawi yakni sebagai ungkapan kesetiaan pasangan yang menikah untuk sehidup semati. Konon Roti budaya ini terinspirasi perilaku yang hanya kawin sekali sepanjang hidupnya” jelas babeh Djamil.

Untuk mempertahankan budaya Betawi Ketua FBR Jakarta Barat ini akan berupaya membangun taman atau Destinasi wisata Betawi yang berlokasi di RT 08 RW 02 kelurahan Kamal Kecamatan Kalideres yang nantinya akan diadakan pentas seni, wisata kuliner dan tempat bermain anak,” saya akan bersinergi dengan pemerintah setempat dari tingkat kelurahan, kecamatan sampai walikota karena di Kecamatan Kalideres belum ada Destinasi wisata Betawi yang nantinya akan ada pentas seni budaya Betawi dan wisata kuliner, saya berharap Kalideres mempunyai ikon budaya Betawi seperti di Srengseng, Setu Babakan, Rumah Si Pitung di Marunda Pulo, di Kemayoran ada patung ondel ondel. Saya akan libatkan semua pihak yang ada di wilayah ini baik tokoh mau pun pengusaha untuk terlaksananya pembuatan taman.
Tokoh Betawi yang terkenal dermawan dan gemar memberikan santunan kepada warga yang kurang mampu ini, menghimbau untuk menjaga kerukunan dan gotong royong serta saling menghargai meski berbeda suku adat dan budaya karena suku Betawi adalah tuan rumah di Jakarta oleh sebab itu harus tetap bisa menjaga persatuan dan kesatuan.
(Bams)












































