
JAKARTA | DETEKSIJAYA.COM – Dua tahun pandemi Covid 19 telah memberikan dampak terhadap semua aspek kehidupan, salah satunya sektor ekonomi. Pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi dan merubah warna iklim usaha, sehingga berimbas industri melemah dan tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar, bahkan pembangunan terhambat.
Ismanto S, pelaku usaha industri yang berlokasi di wilayah Prepedan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, optimis bangkit dan menjadi paradigma baru yang memiliki keyakinan untuk pulih. Direktur Utama PT Trimukti Wirapratama ini juga mengatakan, untuk bisa pulih kita harus melakukan kolaborasi dengan semua pihak, serta berani berinovasi dan adaptasi.
“Di era yang serba sulit ini kita harus pandai baca peluang. Kami juga memprioritaskan hubungan dan kepercayaan para customer yang menjadi kunci keberhasilan kami. Semua itu tak lepas dari kerjasama dari berbagai pihak dan didukung oleh jaringan yang memadai, serta mempunyai hubungan yang luas dengan pihak-pihak yang menunjang produk kami,” ujar Ismanto.
“Dengan kita bisa bertahan dan bangkit artinya masih ada kesempatan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat,” sambungnya.

PT. Trimukti Wirapratama berdiri sejak tahun 1994 di wilayah Prepedan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, mempunyai visi dan misi untuk mengembangkan dan mendukung industry footwear dalam tanah air.
Perusahaan yang bergerak di bidang out sole atau sol sepatu ini bekerja sama dengan berbagai merek ternama seperti Carvil, Bata, Fladeo, Homyped, Crocodile dan merek lainnya.
“Untuk meningkatkan hasil produksi yang berkualitas, kami selektif dalam perekrutan karyawan demi meningkatkan SDM yang unggul dengan membina dan dikaryakan untuk menjadi profesional,” kata Direktur Utama PT. Trimukti Wirapratama ini.
Ismanto yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Prepedan dan Tegal Alur ini, mengeluhkan kendala soal zonasi pemukiman yang ditempati sebagian pelaku usaha.
“Pentingnya sinergitas dengan Pemerintah menjadi kunci kebangkitan ekonomi. Oleh sebab itu kami mewakili para pengusaha di wilayah Kamal dan Tegal Alur, khususnya di Prepedan mengharapkan kebijakan Pemerintah untuk merubah zonasi. Karena zonasi di Prepedan sebagian adalah pemukiman, dan ini merupakan salah satu kendala. Saya tidak menyalahkan Pemerintah atau pengusaha, intinya kami sebagai pengusaha minta kebijakan dari Pemprov DKI Jakarta untuk mengubah zonasi dari pemukiman menjadi industri, dengan tujuan memajukan ekonomi di wilayah ini,” jelasnya.
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Pemerintah yang sudah membantu dalam pembangunan infrastruktur di wilayah Kalideres. Dengan pembangunan ini jelas banyak pengusaha berbondong ke Prepedan,” ujar Ismanto.
Ayah dari dua putra ini juga memaparkan, sejak pertama kali mendirikan pabrik di Prepedan hanya ada satu pabrik yaitu pabrik batok. Bahkan jalan masih tanah dan seiring berjalannya waktu, saat ini sudah banyak pabrik berdiri di atas zonasi pemukiman. Kendati demikian warga sekitar dan pengusaha bisa bersinergi.
“Dengan banyaknya pabrik di wilayah ini secara tidak langsung membantu pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar. Kami sangat menghargai tokoh masyarakat disini, bahkan jika ada warga terkena musibah banjir kami senantiasa siap membantu, tentunya sesuai kemampuan kita,” imbuhnya.
Ko Awie, sapaan hangat sehari hari juga menghimbau kepada pelaku usaha di wilayah Prepedan untuk mentaati peraturan Pemerintah dan ramah terhadap lingkungan. (Bams)












































