
JAKARTA, DETEKSIJAYA.COM – Ketua Mahkamah Agung (MA) Prof. Sunarto menekankan pentingnya integritas, profesionalisme, dan rasa memiliki terhadap lembaga peradilan dalam menjalankan tugas kepaniteraan.
Hal itu disampaikan Ketua MA dalam Pembinaan Teknis dan Administrasi Yudisial bagi para panitera pengadilan seluruh Indonesia di Balairung Mahkamah Agung, Jakarta, Jumat (31/10/2025).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pembinaan nasional yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2025, dan diikuti oleh panitera pengadilan tingkat banding dan tingkat pertama dari empat lingkungan peradilan.
“Kehadiran saudara-saudara bukan hanya menunjukkan kedisiplinan, tetapi juga mencerminkan komitmen dan loyalitas terhadap lembaga peradilan,” ujar Sunarto membuka arahannya.
10 Pesan Kunci Ketua MA
Dalam pembinaan tersebut, Sunarto menyampaikan sepuluh pesan kunci yang menjadi panduan moral dan operasional bagi para panitera.
Pertama, ia menekankan pentingnya apresiasi dan loyalitas sebagai dasar membangun semangat kebersamaan. Kedua, introspeksi dan pelayanan publik, yakni refleksi terhadap kontribusi aparatur dalam melayani masyarakat pencari keadilan.
Pesan ketiga, jabatan adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Sunarto mengingatkan bahwa bahaya sesungguhnya bukan dari luar, melainkan “retakan kecil di dalam organisasi yang dibiarkan tanpa perbaikan.”
Selanjutnya, ia mengajak aparatur untuk menumbuhkan rasa syukur sebagai sumber keberkahan, mengutip QS Ibrahim ayat 7.
Teknologi Tak Gantikan Nurani
Menyesuaikan dengan perkembangan zaman, Sunarto menyoroti tantangan Revolusi Industri 5.0 yang membawa peran besar kecerdasan buatan (AI) dalam administrasi peradilan.
“Teknologi tidak dapat menggantikan nurani dan keadilan. Yang membuat kita layak berada di sini bukan sekadar kemampuan berpikir, tetapi kemampuan untuk merasakan dan menegakkan keadilan dengan hati,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pimpinan MA terus memperhatikan kesejahteraan aparatur, termasuk mengusulkan perubahan tunjangan bagi panitera dan jurusita kepada pemerintah.
Integritas dan Pengawasan
Dalam pesan kedelapan dan kesembilan, Sunarto menyoroti pentingnya pembinaan dan pengawasan atasan langsung serta tantangan integritas aparatur kepaniteraan.
Berdasarkan data MA, pelanggaran disiplin tercatat 85 kasus pada 2023, meningkat menjadi 128 kasus pada 2024, lalu menurun menjadi 59 kasus hingga Agustus 2025.
“Data tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar pembinaan terhadap aparatur dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya administratif,” tegasnya.
Pelayanan sebagai Ibadah
Sebagai penutup, Ketua MA menyampaikan pesan kesepuluh tentang pelayanan publik berkarakter, yakni pelayanan yang dilandasi keikhlasan dan niat ibadah.
“Setiap pekerjaan tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa, dan bangsa tercinta,” ujarnya.
Sunarto menutup pembinaan dengan ajakan untuk meneguhkan kembali makna pengabdian dan tanggung jawab dalam menjaga marwah lembaga peradilan.
“Sebuah organisasi dapat berdiri kokoh karena setiap bagiannya saling menguatkan. Setiap peran memiliki arti, dan setiap arti memberi kekuatan,” tutup Ketua MA. (Ramdhani)












































