
DETEKSIJAYA.COM – Beberapa hari lalu jagat maya sempat dihebohkan dengan beredarnya potongan video empat orang pria menenteng senapan laras panjang dan menyerukan kata-kata yang bernada provokatif.
Sosok pria yang menyampaikan seruan provokatif dalam video tersebut diketahui adalah Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi bernama Ujang Hamdun. Dia juga tercatat sebagai calon pengurus DKM Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung milik Pemprov Jawa Barat.
Ujang Hamdun, dalam video berdurasi 48 detik itu terlihat membacakan potongan surat Al-Anfal ayat 60. Di akhir video, ia menyampaikan kata-kata yang dinilai mengandung propaganda meminta agar masyarakat memerangi orang musyrik dan menjadi hamba yang membunuh bukan dibunuh.
“Jadilah Hamba yang membunuh bukan yang dibunuh. Perangi orang musyrik dimanapun mereka berada,” seru Ujang dalam video itu.

Menanggapi video yang viral di Twitter tersebut, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengaku sangat menyesalkan aksi Ujang Hamdun bersama tiga rekannya.
“Mendapat laporan ada peristiwa yang dilakukan Sekum MUI Kabupaten Sukabumi, intinya saya menyesalkan,” ucap Gubernur Jabar yang akrab disapa Kang Emil itu.
Kang Emil mengaku baru mengetahui apabila Ujang Hamdun merupakan salah satu calon pengurus DKM Masjid Raya Al Jabbar. Menurutnya sebagai seorang tokoh, Ujang harusnya bisa memberikan teladan yang baik.
“Sebagai tokoh dalam kepengurusan majelis ulama harus memberikan sebuah keteladanan yang baik, bahwa ternyata beliau ada di kepengurusan Al Jabbar,” katanya.
Kang Emil menjelaskan, kepengurusan DKM Masjid Raya Al Jabbar merupakan perwakilan MUI dari 27 daerah serta ormas Islam. Namun, atas beredarnya video itu Kang Emil akan segera mengevaluasi kepengurusan DKM Masjid Raya Al Jabbar.
“Bahwa ternyata di kemudian hari ditemukan ada hal yang sifatnya tidak baik atau tidak sesuai aturan, tentu bisa dievaluasi kepengurusan di Al Jabbar tersebut,” jelasnya.
“Masing-masing individu membawa sejarah perilaku dinamika, setelah mempunyai jabatan maka akan jadi tanggung jawab,” kata Kang Emil menambahkan.
Sementara itu, di depan awak media Ujang Hamdun memberikan klarifikasi atas video viral itu. Dia menegaskan bahwa ia bersama tiga rekannya setia terhadap NKRI. Ujang juga mengakui bahwa dia menjadi salah satu pembina narapidana teroris.
“Saya bersama rekan-rekan ini ada Kang Anton, Kang Rozak, dan David bahwa pertama saya sampaikan dulu secara tegas, saya NKRI dan kegiatan saya bagaimana membina narapidana dan napiter. Kemarin baru deklarasi setia kepada NKRI, ikrar kembali setia kepada negara,” ujar Ujang Hamdun baru-baru ini.
Lebih lanjut, Ujang pun membantah ada dugaan terafiliasi dengan kelompok teroris tertentu. Menurutnya, video itu dibuat untuk konsumsi pribadinya.
“Saya tidak terafiliasi dengan aliran-aliran garis keras, kami juga tidak ada sedikit pun niat untuk melawan NKRI atau apapun yang ditunjukkan. (Tujuan) konsumsi pribadi artinya untuk internal teman-teman pengajian dan tidak ada tujuan disebarluaskan,” katanya.
Terkait senapan laras panjang yang mereka bawa, Ujang mengatakan, senapan tersebut sudah diserahkan ke Kodim 0607 untuk ditelusuri. Dia juga menuturkan telah mengkonfirmasi video itu kepada pihak TNI dan Polri.
“Kami sudah melakukan silaturahmi, ngobrol bersama (TNI dan Polri). Insya Allah, kami tidak ada sedikit pun unsur makar terhadap negara ataupun terafiliasi dengan kelompok tertentu. Senapan sudah diserahkan ke pihak Kodim 0607 untuk bahan pertimbangan mereka. Pandangan saya itu senapan angin dan rutinitas kami berburu,” katanya.
Ujang pun meminta maaf terkait video viral tersebut. “Sekali lagi saya mohon maaf atas video tersebut, apabila ada hal-hal yang kurang berkenan di hati masyarakat Republik Indonesia,” tutupnya. (Red-01/*)












































