
DETEKSIJAYA.COM – Adanya kesimpangsiuran jumlah korban kerusuhan Kanjuruhan usai pertandingan Arema FC versus Persebaya Surabaya di Malang pada Sabtu malam (1/10/2022), Polri melakukan pemutakhiran data terkait jumlah korban meninggal maupun yang mengalami luka-luka.
Diberitakan, sebelumnya dalam sesi konferensi pers pada Minggu pagi (02/10), Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nico Afinta menyebut bahwa korban jiwa berjumlah 127 orang. Selain 125 suporter Arema, ada dua aparat kepolisian yang menjadi korban jiwa pada tragedi tersebut.
Namun, dari data yang diungkap oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, Wiyanto Wijoyo pada Minggu siang (2/10), seperti dilaporkan beberapa media, ada 180 orang meninggal dunia dan 191 orang mengalami luka-luka.
Setelah diperbaharui, berdasarkan hasil pemutakhiran data, pada Minggu (2/10) malam Polri mengidentifikasi angka korban tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang sebanyak 125 orang. Adapun korban luka-luka dalam kejadian tersebut tercatat 323 orang.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan setelah proses verifikasi diketahui ada data ganda, dan jumlah kotban meninggal hasil verifikasi sebanyak 125 orang.
“Terkonfirmasi sampai saat ini, data terakhir dari hasil pengecekan oleh Tim DVI Polri dan diverifikasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, jumlah meninggal 125 orang karena ada yang tercatat ganda,” kata Kapolri di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Banyaknya korban jiwa akibat tragedi Kanjuruhan membuat media asing banyak mengulasnya. Tragedi Kanjuruhan disebut menjadi terbesar kedua dalam sejarah sepak bola dunia dalam hal jumlah korban meninggal dunia.
Presiden FIFA, Gianni Infantino turut memberikan empati dan tanggapan atas kejadian tersebut.
“Dunia sepak bola sedang syok menyusul insiden tragis yang terjadi di Indonesia pada akhir pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan,” katanya.
Baginya, kejadian tragis di Stadion Kanjuruhan menjadi duka kelam untuk sepak bola di seluruh dunia.
“Sebah tragedi di luar pemahaman. Saya menyampaikan belasungkawa terdalam saya kepada keluarga dan teman-teman para korban yang kehilangan nyawa setelah insiden tragis ini,” ujar Gianni Infantino.

Sementara, atas tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang itu, dalam konferensi pers pada Minggu (2/10) siang, Sekjen PSSI, Yunus Nusi berharap FIFA tidak memberi sanksi kepada Indonesia.
Yunus menjelaskan, pihaknya terus membangun komunikasi dengan FIFA untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang.
“Kita sangat berharap ini tidak menjadi rujukan dan landasan dari FIFA untuk mengambil keputusan yang tidak baik dan tidak menguntungkan untuk Indonesia dan PSSI khususnya,” katanya.
Yunus menegaskan bahwa apa yang terjadi dalam insiden itu bukan termasuk perkelahian antar supporter. Kejadian itu bukan peristiwa saling memukul antar supporter.
Menurut dia, kejadian ini murni karena ada antrean yang menumpuk di sebuah pintu stadion dan terjadi kerumunan di dalam stadion sehingga terjadi desak-desakan.
Tidak hanya itu, PSSI juga yakin bahwa FIFA dan AFC tidak akan terburu-buru untuk mengambil sikap terkait apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.
Dikabarkan, Indonesia terancam menerima sanksi dari FIFA sebagai imbas dari tragedi Kanjuruhan. Ada tujuh sanksi FIFA ancam Indonesia. Jika tujuh sanksi FIFA itu diberlakukan, maka akan sangat merugikan sepak bola Indonesia mulai dari pemain, klub, Timnas Indonesia hingga PSSI.
Berikut 7 ancaman sanksi FIFA tersebut :
- Seluruh pertandingan liga Indonesia dibekukan 8 tahun
- Keanggotaan Indonesia di FIFA dicabut
- Piala Dunia U-20 yang akan digelar 20 Mei hingga 11 Juli 2023 di Indonesia akan dibatalkan
- Timnas Indonesia dilarang main di Piala Asia 2023 dan Piala Asia U-20
- Poin Ranking FIFA Timnas Indonesia dikurangi
- Kompetisi Liga Indonesia tanpa penonton
- Klub Indonesia tidak boleh bermain di AFC Cup dan Liga Champions Asia
(Red-01/*)












































