
JAKARTA | DETEKSIJAYA.COM – Dengan situasi yang serba tidak pasti saat ini, tanda-tanda akan terjadinya resesi global pun semakin jelas. Hal itu terlihat dari sejumlah negara mengalamai perlambatan ekonomi.
Perlambatan muncul di negara-negara maju, termasuk ekonomi raksasa seperti China, Amerika Serikat dan Inggris.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan memperkirakan resesi ini akan terjadi pada tahun depan.
“Ada kemungkinan yang cukup besar resesi ini akan terjadi pada tahun depan,” kata Luhut, Rabu (28/9/2022).
Menurut dia, resesi tersebut terjadi akibat perang di Ukraina dan juga ketegangan di Tiongkok.
Oleh sebab itu, Luhut memperingatkan kepada semua pihak agar menata perekonomian dengan baik. Terlebih lagi, ketegangan antara Ukraina-Rusia dan ketegangan China-Taiwan yang tidak kunjung reda akan berdampak terhadap kebutuhan pangan dan energi Indonesia.
“Suka tidak suka, itu akan berdampak ke Indonesia. Pertanyaan ya berapa lama kita bisa hadapai ini. Oleh karena itu kita harus menata negeri ini dengan baik,” sebut Luhut.

Di sisi lain, ia percaya bahwa Indonesia akan dapat mengatasi hal tersebut jika seluruh pihak dapat bekerjasama menghadapinya.
Untuk itu, Luhut meminta masyarakat harus kompak dan memperkuat kerja sama untuk menghadapi ketidakpastian global yang dapat menghantam kapanpun.
“Saya percaya, kalo kita kompak dan semua kita satu bahasa dalam menghadapi keadaan krusial dimana dunia meramalkan akan memasuki krisis global atau perfect storm yang akan terjadi beberapa lama ke depan ini akan teratasi,” jelasnya.
Selain Luhut, sebelumnya Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan ekonomi dunia akan masuk dalam jurang resesi global di tahun 2023. Hal ini, menurutnya tak lepas dari kenaikan bunga acuan yang dilakukan sejumlah bank sentral di dunia secara bersamaan.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, proyeksi resesi 2023 mengacu pada studi Bank Dunia (World Bank) yang menilai kebijakan pengetatan moneter oleh bank-bank sentral akan berimplikasi pada krisis pasar keuangan dan pelemahan ekonomi.
“Kalau bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem dan bersama-sama, maka dunia pasti mengalami resesi di tahun 2023,” ungkapnya, Senin (26/9/2022).
Adapun dalam beberapa waktu terakhir, sederet negara telah jatuh ke jurang resesi, baik negara maju, negara berkembang, maupun miskin. Bahkan sejumlah negara dikabarkan sudah mengalami kebangkrutan, salah satunya Sri Lanka. (Red-01)












































